Gejala Mata SePeLe, Jangan Disepelein!
“Teman-teman, jadi kan acara bedah bukunya hari Sabtu?”
Pesan itu kukirim ke grup chat kami sambil melihat tumpukan buku yang sudah memenuhi meja.
Beberapa detik kemudian, notifikasi mulai bermunculan.
“Jadi dong!”
“Pembicaranya sudah konfirmasi?”
“Poster sudah jadi belum?”
“Tempatnya aman, kan?”
Aku tersenyum membaca satu per satu pesan dari teman-temanku. Ya, kami memang sama-sama punya hobi membaca. Dari sekadar saling merekomendasikan buku, akhirnya kami sering berdiskusi tentang buku yang sedang dibaca. Kadang diskusinya hanya lewat grup chat, tetapi tidak jarang juga kami bertemu langsung untuk bertukar cerita.
Kali ini kami ingin membuat sesuatu yang sedikit berbeda. Kami akan membuat event bedah buku bersama dan mengundang satu pembicara. Bukan acara besar. Hanya pertemuan kecil bersama sesama pencinta buku untuk membicarakan satu buku yang menurut kami menarik.
Meski sederhana, persiapannya ternyata lumayan banyak. Ada poster yang harus dibuat, daftar peserta yang harus dicatat, materi diskusi yang perlu disiapkan, sampai tentu saja membaca ulang buku yang akan dibahas.
Dan di situlah masalah kecil itu mulai muncul.
Membaca Berjam-Jam, Mata Mulai Terasa SePeLe
Sebagai orang yang memang suka membaca, aku sebenarnya sudah terbiasa menghabiskan waktu cukup lama dengan buku. Kalau ceritanya menarik, bisa-bisa aku lupa waktu.
Namun, beberapa hari sebelum acara, aktivitas membaca terasa sedikit berbeda. Selain membaca buku untuk persiapan diskusi, aku juga harus memeriksa materi acara melalui laptop dan ponsel.
Pagi membaca buku. Siang mengecek file di laptop. Sore kadang harus membalas pesan teman-teman di grup. Malam kalau lagi santai aku membaca lagi.
Begitu terus.
Awalnya tidak ada masalah. Sampai suatu sore, ketika sedang membaca salah satu bab, aku mulai merasa mataku agak sepet. Aku berkedip beberapa kali. Mataku mulai terasa ada yang mengganjal.
“Mataku kenapa ya?” pikirku.
Aku menutup buku sebentar, mengalihkan mataku ke arah lain hingga beberapa detik kemudian melanjutkan membaca.
Beberapa halaman kemudian, rasa sepet itu muncul lagi. Kali ini disertai rasa agak PErih dan mata terasa lebih cepat lelah.
Aku kembali berhenti.
“Ah, paling cuma karena kurang istirahat.”
Akhirnya buku kututup dan kubiarkan tergeletak di kasur, lalu aku keluar kamar.
Begitulah biasanya kita bereaksi ketika mengalami gejala yang terasa ringan. Apa kamu juga sepertiku?
Karena hanya sepet, kita menganggapnya sepele. Karena hanya sedikit perih, kita pikir nanti juga bakal hilang. Padahal, justru dari hal-hal kecil seperti inilah kita seharusnya mulai lebih aware dan memperhatikan kondisi mata.
Ketika Persiapan Acara Mulai Terganggu
Semakin dekat dengan hari acara, semakin banyak yang harus dikerjakan. Aku harus membaca beberapa bagian penting dari buku yang akan dibahas. Teman-teman juga mengirimkan materi untuk diperiksa.
Suatu malam, aku sedang membaca sambil menandai beberapa halaman penting ketika tiba-tiba mataku terasa semakin tidak nyaman. Tulisan di halaman buku seperti ingin kuhindari. Aku jadi kehilangan konsentrasi
Kucoba berkedip, lalu berkedip lagi. Sesekali aku memejamkan mata.
“Duh, mataku kenapa sih?” Tanganku sudah gatal ingin mengucek mata karena terasa mengganggu. Namun, ku tahan-tahan, takutnya malah tambah fatal nantinya.
Aku kemudian meletakkan buku dan beristirahat sebentar. Sambil berbaring aku mulai mengingat-ingat kalau beberapa hari terakhir aku memang terlalu memaksakan mata. Aku membaca dalam waktu lama tanpa memberikan jeda yang cukup. Setelah membaca, masih lanjut melihat layar laptop dan ponsel. Bahkan ketika sudah lelah pun, aku sering berkata pada diri sendiri, “Sebentar lagi selesai.” Ternyata ini berimbas pada mataku.
Mata yang SePeLe Ternyata Bisa Mengganggu Banyak Hal
Besoknya, aku bercerita kepada salah satu teman tentang kondisi mataku.
“Makanya jangan disepelein,” katanya.
Aku tertawa.
“Iya, iya. Baru terasa nggak nyamannya sekarang, kemarin sih biasa-biasa aja”
Kami kemudian membicarakan betapa seringnya kita mengabaikan mata ketika sedang sibuk.
Mata terasa kering, dianggap biasa. Mata sepet, dibiarkan. Mata lelah, tetap dipaksa bekerja. Padahal bagi orang yang hobi membaca sepertiku, mata adalah bagian penting dari aktivitas sehari-hari.
Bagaimana mau menikmati buku kalau membaca beberapa halaman saja sudah terasa tidak nyaman? Bagaimana mau mempersiapkan materi bedah buku kalau mata malah sibuk ingin beristirahat?
Aku pun mulai mengubah kebiasaan. Ketika membaca, aku memberikan jeda untuk mata. Aku juga berusaha tidak terus-menerus menatap layar setelah selesai membaca dan memastikan pencahayaan cukup.
Selain itu, aku menyiapkan #InstoDryEyes untuk membantu ketika mata terasa kering atau tidak nyaman. Simungil dengan kotak biru muda ini kubeli dari sebuah apotek atas rekomendasi temanku. Katanya bagus untuk mata dan dia sendiri pun sering memakainya.
Akhirnya, Hari Bedah Buku Tiba
Setelah melalui berbagai persiapan, hari yang kami tunggu akhirnya datang. Buku-buku sudah tertata. Kursi peserta sudah disiapkan. Materi diskusi sudah tersedia. Teman-temanku juga sudah datang lebih awal. Aku tersenyum ketika melihat beberapa orang mulai berdatangan membawa buku masing-masing.
Acara berjalan lebih seru dari yang kami bayangkan. Kami membicarakan karakter, alur cerita, pesan yang disampaikan penulis, bahkan berdebat kecil tentang bagian tertentu dari buku. Syukurnya, mataku sudah nyaman kembali sehingga momen ini tidak kulewatkan.
Dari pengalaman mempersiapkan acara bedah buku itu, aku mendapat pelajaran sederhana yang mungkin harus kamu tahu.
Kita sering kali lebih cepat menyadari kalau buku yang kita baca mulai rusak daripada menyadari mata kita sendiri sedang tidak nyaman. Padahal, buku bisa diganti, lantas mata kita gimana?
Mata harus kita jaga karena ini satu-satu aset yang bisa membuat kita bisa menatap semua hal yang ada di dunia ini. Karena itulah, dari kejadian kecil kemarin aku tak lagi menganggap sepele ketika mata terasa sepet, kering, perih, atau lelah. Aku akan memberikan waktu istirahat, menjaga kebersihan mata, memperhatikan pencahayaan saat membaca, dan tidak memaksakan mata bekerja terlalu lama. Sebab hobi membaca seharusnya menjadi aktivitas yang menyenangkan bukan?
Dan untuk kamu yang juga suka membaca, bekerja di depan layar, atau punya aktivitas yang membuat mata bekerja cukup lama, jangan tunggu sampai mata benar-benar mengganggu aktivitas. Kalau gejalanya terasa SePeLe, tidak berarti boleh disepelekan.
Seperti kata temanku waktu itu, “#MataSePeLeJanganSepelein.” Dan sekarang aku setuju pada ucapannya.
Karena menjaga kenyamanan mata bukan hanya dilakukan ketika sudah bermasalah. Justru perhatian kecil yang kita berikan setiap hari bisa membantu kita tetap menikmati hal-hal yang kita sukai. Termasuk tenggelam berjam-jam dalam halaman sebuah buku dan #BebasMataKering, tentunya. Dan satu hal yang paling penting, aku masih ingin membaca banyak buku lagi. Bersyukur, INSTO DRY EYES kini jadi teman setia pendukung aktivitas baca bukuku.

Posting Komentar untuk "Gejala Mata SePeLe, Jangan Disepelein!"
Posting Komentar