Menghapus Stigma, Menuju Dunia Bebas Kusta 2040

Ada fakta menarik yang saya dapatkan saat mengikuti live streaming Ruang Publik KBR dalam rangkaian Peringatan Hari Kusta Sedunia 2024.

Indonesia menempati urutan nomor 3 peringkat dunia, setelah India dan Brazil dalam hal angka kusta. Prestasi membanggakan? Tentu tidak!

Setiap tahunnya, di Minggu terakhir pada Januari selalu diadakan peringatan Hari Kusta Nasional. 

Alhamdulillah pada 30 Januari kemarin, saya dan beberapa teman blogger mendapatkan kesempatan mengikuti webinar Peringatan Hari Kusta Sedunia 2024 bersama Rizal Wijaya sang host membawakan acara ini dengan begitu atraktif.

Ini sebagai momen yang tepat untuk menyuarakan kampanye edukasi kusta, medis, sosial dan pengalaman OPYMK.

SUKA yang merupakan kepanjangan dari Suara untuk Indonesia Bebas dari Kusta ini bisa disaksikan melalui live streaming, lo! 

Pesan dalam Tema


Kasus kusta di Indonesia masih ada, bahkan terjadi di sekitar kita. Oleh sebab itu Bu Hana Krismawati, M.Sc, seorang Pegiat Kusta dan Analis Kebijakan (Pusat Sistem dan Strategi Kesehatan - Minister Office), sangat mengapresiasi adanya gerakan ini.

Kondisi Kusta 2023 di Indonesia


Saat ini geliat pekerjaan pemerintah memang semakin meningkat. Setelah Covid-19 yang sempat datang dan membuat meredupnya kegiatan eliminasi kusta.

Angka yang ada tidak lebih dari nilai penyakit lain seperti TB, oleh sebab itu pemerintah makin percaya diri kekuatan yang dimiliki pemerintah untuk menemukan kasus baru

Kiprah NLR Indonesia


Organisasi nirlaba berbadan hukum yayasan yang berdiri pada tahun 2018 ini adalah bermitra dengan pemerintah, termasuk dinas kabupaten kota endemis dalam hal penanganan kusta. 

Meski status kusta ini makin berkurang, tapi stigma masih melekat


dunis-bebas-kusta-2040.webp


Bagi penderita kusta, jujurlah pada tenaga kesehatan karena level penanganan kusta sudah ada hingga di tingkat puskesmas. Ini sudah diupayakan sedekat mungkin. Sampaikan keluhan dengan tenkes secara terbuka untuk mendapatkan pengobatan.

Bagi keluarga diharapkan juga memberikan support sehingga penderita tidak merasa sendiri dan mau memeriksakan diri. 

Berdasarkan hasil penelitian Penularan kusta yang berpeluang besar adalah jika seseorang tinggal serumah dengan penderita kusta selama 8 bulan atau lebih 8 dengan waktu 8 jam setiap hari.

Di era seperti ini stigma tidak terlalu relevan dengan kusta. Beda dengan 600 tahun SM. Sekarang, pasien kusta tidak relevan untuk menyembunyikan kusta yang ia derita (Hana Krismawati, M.Sc).

Salah persepsi bisa jadi terjadi karena ketidaktahuan. Oleh sebab itu menyebarkan informasi terkait kusta ini merupakan salah satu hal penting.

Mencari, menemukan kasus baru, lalu cari kontak eratnya, diberikan penangan lanjut, kasus ini bisa ditekan.

Berbeda jikla kasus ini tertutupi sehingga kasus ini akan terus ada.

Korelasi Kusta dengan Kemiskinan


Data BPS pada 2023 mencatat bahwa Papua, Papua Barat dan NTT memiliki angka kemiskinan tertinggi. Apakah jumlah penderita kusta juga tinggi?

Dari beberapa penelitian memang kusta sering terjadi pada negara dengan "middle low and middle income country”

Secara angka prestasi dunia Indonesia memegang peringkat ketiga setelah India dan Brazil. Kita bisa melihat bahwa negara ini memiliki iklim dan populasi tinggi.

Orang yang mudah terjangkit kusta memang terjadi pada orang yang malnutrisi. Jadi memang ada kemungkinan besar kusta bisa menginfeksi orang dengan asupan gizi yang kurang bagus.

Kusta bukan penyakit keturunan
Kusta bisa disembuhkan

Strategi untuk mengurangi angka kusta di Indonesia


Menurut Pak Agus Wijayanto MMID, selaku direktur eksekutif NLR Indinesia, upaya ini harus dilakukan secara sinergis mulai dari pemerintah hingga masyarakat,, misalnya dengan menyebarkan informasi terkait kusta ini.

Dorong penderita kusta yang dikenal untuk mau datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan segera, bukan dengan memberikan stigma sehingga penderita kusta terkucilkan.

Transformasi Kesehatan


Pemerintah konsen untuk layanan kesehatan primer tentang rekrutmen tenaga kesehatan, logistik, yang dikuatkan

Dari Bu Hana, sekarang digitalisasi lebih mudah karena tenaga kesehatan bisa dengan mudah melaporkan angka kejadian kusta di daerah. Kemandirian obat (mengadakan obat sendri menggunakan APBN), dan aktifkan case finding.

Pemerintah telah menunjukkan perhatian yang merata menuju Indonesia sehat, termasuk kusta.

Terakhir, Pak Agus mengatakan bahwa integrasi pemerintah dan masyarakat untuk mengeliminasi kusta akan semakin kuat, sedang dari Bu Hana mengharapkan para akademisi mau berlomba melakukan penelitian terkait kusta. Eliminasi kusta bukan impian belaka. Semua harus mau berusaha. (*)
Karunia Sylviany Sambas
Karunia Sylviany Sambas Saya adalah seorang tenaga kesehatan yang suka menulis, membaca dan mempelajari hal-hal baru. Alamat surel: karuniasylvianysambas@gmail.com Selain di sini, saya juga menulis di Rekam Jejak Sang Pemimpi, Ketika Jejakku Menginspirasimu, Berlayar & Menambatkan Impian, Meniti Jembatan Impian, Jejak Inspirasi Sylviany, Cakrawala Baca Sylvia

Posting Komentar untuk "Menghapus Stigma, Menuju Dunia Bebas Kusta 2040"